Organisasi Mirip Mafia Jepang Yakuza Maneges
Yakuza Maneges = Mafia Hijrah? Kalau narasinya terlalu menonjolkan romantisasi masa lalu kelam — misalnya seolah “preman dulu baru hijrah itu keren” memang bisa menimbulkan efek samping: orang yang sebenarnya sudah baik-baik saja malah merasa kisah taubat yang “dramatis” itu lebih menarik.
Fenomena ini kadang terlihat di media sosial: cerita “mantan begini, mantan begitu” lebih viral dibanding kisah orang yang istiqamah sejak awal. Padahal dalam Islam, menjaga diri agar tidak jatuh justru nikmat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap umat diberi afiat/keselamatan, dan itu nikmat yang sangat agung. Orang yang tidak pernah terjerumus maksiat berat bukan berarti kisahnya kurang bernilai.
Abdullah bin Mas'ud pernah menasihati dengan makna yang kuat: seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung di atas kepalanya, sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya.
Artinya:
Taubat itu mulia bagi yang benar-benar pernah jatuh.
Tapi maksiat tidak boleh dipasarkan sebagai identitas keren.
Dan istiqamah sejak muda itu justru kemuliaan besar.
Yusuf bukan terkenal karena “pernah nakal lalu tobat”, tapi karena menjaga diri saat diuji.
Banyak ulama juga mengingatkan agar kisah hijrah disampaikan proporsional: “Dulu saya rusak lalu berubah” boleh jadi motivasi — asal tidak membuat fase rusaknya tampak glamor, lucu, atau heroik.
Karena setan punya dua pintu:
menjerumuskan orang baik agar penasaran pada keburukan
membuat pelaku maksiat putus asa dari taubat
Dakwah terbaik biasanya menutup dua pintu itu sekaligus: mengajak pelaku dosa untuk kembali, sambil membuat orang yang masih terjaga bersyukur dan tetap istiqamah.